Selasa, 24 Maret 2020

Puisi Kelas 7E pada Semarak Lustrum XIV SMP N 3 Purworejo 2020





Sebuah Puisi Dari Siswa kelas 7E Untuk Semarak Lustrum XIV SMP N 3 Purworejo di tahun 2020

Kamis, 27 Februari 2020

Panembrama pada Muhibah Budaya Mataram di Kabupaten Purworejo 2020 - Pes...







Panembrama penampilan peserta workshop Macapat Muhibah Budaya Mataram Yogyakarta di Kabupaten Purworejo.

Selasa, 25 Februari 2020

Beksan Menak Putri Kridha Warastra - Tari Golek Menak





Beksan Menak Putri Kridha Warastra




Beksan Menak Putri Kridha Warastra merupakan
salah satu tari yang digarap bersumber dari ragam gerak Menak Putri. Ragam
Menak tersebut diciptakan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan
terinspirasi dari Wayang Golek Menak. Beksan ini menceritakan Prajurit putri
dari kerajaan Ambarkustub yang sedang berlatih perang untuk melawan Kerajaan
Koparman dengan menggunakan senjata jemparing (Panah). Gerakan dalam tarian ini
diambil dari ragam gerak menak putri berkarakter branyak dan terdapat
beberapa gerak pencak di dalamnya. 





Beksan Golek Menak - Muhibah Budaya Mataram Yogyakarta di Kabupaten Purw...




Beksan Golek Menak

Beksan (tari) Golek Menak adalah sebuah genre
dramatari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988). Gagasan penciptaan
tari ini dicetuskan Sultan setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak
yang dipentasakan oleh seorang dalang dari Kedu pada tahun 1941. Apabila dramatari
Wayang Wong menceritakan kisah Ramayana dan Mahabarata, dramatari Golek Menak
menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Serat Menak. Untuk mewujudkan
gagasannya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menunjuk KRT Purbaningrat dan para
penari terbaik keraton untuk mentransformasikan gerak wayang golek kayu, atau
wayang tengul, ke dalam bentuk gerak tarian. Sultan juga mengundang Ki
Widirayitno, seorang dalang dari Sentolo, Kulonprogo, untuk memainkan wayang
golek di Bangsal Kasatriyan Keraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono IX
sempat mengawasi langsung proses awal dari penciptaan Beksan Golek Menak. Saat itu
tercipta Gerakan untuk tiga tipe karakter, yaitu karakter menak putri untuk
tokoh Dewi Suradewati dan Dewi Sirtupelaheli, menak gagah untuk Prabu Dirgamaruta
dan menak alus untuk Raden Maktal. Gerakan tarinya menitikberatkan pada Gerakan
lambung, Gerakan kaki yang diperingan, serta Gerakan pacak gulu pada leher. Gerakan-gerakan
tersebut adalah usaha untuk mempresentasikan Gerakan wayang goleh pada manusia.

Kamis, 14 Desember 2017

Sinopsis Tari Dolalak Jalan-jalan

No Undi : 02


Dolalak Jalan-Jalan

Jalan-jalan
Bukan berarti melangkah meninggalkan sejarah.
Karya ini menceritakan ringkasan perjalanan Dolalak mengikuti perkembangan zaman, dari era dolalak pakem/klasik, kreasi, hingga dolalak zaman now. Perkembangan dolalak masa kini mulai kehilangan arah dalam melangkah, menjauh dari pakem dan lebih mementingkan komersialnya. Jati diri dolalak akan ambyar termakan pasar, anak-anak mengira dolalak adalah tontonan pamer paha dan ajang hura-hura, bukan nguri-nguri budaya. Ketol mania mulai bercermin memilah dan memilih, berkembang bukan berarti menghilangkan rasa, tapi memperkuat tradisi menjadi jatidiri memberikan rasa  yang kuat dalam jiwa.
Dolalak sak iye, ra nganggo pakeme
Menceng rono, yo menceng rene
Ana dangdute, ana reagene, apa iya ana hip-hope?
Do mikir payune, do ketok seksine,
Ora eling bocah cilik uga ngematke.
Modern dengan budaya, bukan budaya yang dimodernkan.

Kembalikan originalitas dolalaku, tuntutan pasar bukan alasan melupakan tradisi. 


Tersebut diatas adalah sinopsis dolalak Jalan-jalan dari kelompok Dolalak Ketol Mania pada Festival Dolalak Kabupaten Purworejo tahun 2017.

Rabu, 25 Januari 2017

Sahabat, saya, dan burjo

Ini menu semalam.
Jadi teringat masa PPL, bersama Muhammad Gunanggoro Priambodo, Larindah Septiyani, R Tanjung Putro.
Suatu ketika,
Kami kebetulan semuanya the kopites (Alias fansnya Liverp**l FC). Waktu itu kami disatukan kembali dg ini, ternyata mas gun, mbak larindah, dan saya sama-sama suka burjo juga.
Singkatnya, ba'da Maghrib kami sepakat untuk jalan2 disekitaran rumah singgah untuk sekedar membeli burjo. Tanjung kala itu setengah hati untuk ikut karena tidak begitu suka. Tapi setelah berfikir sejenak ia memutuskan untuk ikut, tapi sekedar menemani, karena katanya tidak suka.
Akhirnya kita nongkrong dah tu di penjual burjo, dekat lapangan, penjualnya orang madura. Mas gun dan mbak larindah pesen burjo pakai es, saya pesen yanh anget.
Setelah burjo dingin disajikan, tanjung sedikit tertarik nih, mungkin nampak lexat kali ya. Tanjung tampak seperti berfikir sejenak, dan akhirnya pesan juga, burjo hangat.
Hening sejenak, menjadi begitu ramai saat sendok dan mangkuk kami saling berkicau sahut2an, dan sedikit candaan kecil dari kami. Tak berapa lama, dalam sekejap burjo kami pun tatas, mangkuk bersih seperti belum dipakai hahaha, begitu pula dengan tanjung. Tak berapa lama mata saya, mbak larindah, dan mas gun terbalalak dan kurang percaya, ketika mendengar si Tanjung minta tambah.
Kami seketika tertawa, wong katanya ndak suka kok malah tambah. 😂
Spontan kami pun bertanya "tanjung lapar, apa doyan", tanjung pun membalas "wong enak kok".
Dan beruntungnya, kalau ndak salah waktu itu tanjung juga yang kemudian mentraktir kami, dan setelah hari itu, ketika tanjung mampir ke rumah singgah, ia mengajak kami untuk membeli burjo lagi.

Senin, 16 Mei 2016

Puisi Sesatku


Sesatku



Aku hanya sebagian dari orang yang tersesat

Merasa terbuang saat engkau yang bijak tak lagi bertanggungjawab

Aku tersesat dalam duniamu yang tak pernah ku mengerti, meski hari terus berganti

Terimakasih tuan, engkau menunjukanku jalan terang nan menyesatkan

Ini bukan duniaku, kataku sembari mengusap tetes peluhku

Aku yang lelah tidak tahu kemana harus melangkah



Senyumu tuan, memang terasa lebih indah

Saat melihatku terbuang, terdampar tanpa tujuan selaksa sampah menepi tanpa arah

Tuan bijak, haruskah aku selalu menelan ludah

Menyaksikan picikmu memutar lidah untuk mengubah berlian menjadi sampah

Rabu, 11 Mei 2016

Puisi Sandal Jepit #2

Sandal Jepit

Sejuta rasa itu memang indah
Yang kini tinggal usapan peluh dan pening saat kuingat
Saat keringat mulai bercucur deras
Untukmu, untuk bendera yang kau kibarkan
Gelegar petir menyambar ditengah awan kelabu
Secepat itukah engkau
Membuat semua sirna sekejap mata

Tuan besar
Masihkah aku harus mengingat
Kelabu dunia malam, saat mereka mulai mencaci
Dan kau mulai memutar lidah

Ini Ibu Saya, Maaf ya bu

Ini ibu saya

Hari ini saya terkejut. Kebiasaan buruk saya selalu menjadi masalah dalam diri yang oaling sulit untuk diatasi. Dan ini mungkin bias dirasakan oleh sosok ibu saya, yang biasanya hanya diam.

Kejadian ini bermula saat zull terbangun jam 2 pagi, terbangun karena teringat belum shalat isya. Kemudian bangunlah saya, berjalan ke belakang, dari ruang tamu. Lho? Iya biasa orang kere mah gak level punya kamar sendiri, tidur di ruang tamu dong. Haha.

Lanjut saya berwudhu, dan kemudian melaksanakan shalat isya sejenak. Pasca shalat isya meski tanggung sebenarnya saya tetap ingin melanjutkan tidur saya. Alih alih tidur, yang terjadi sulit tidur, sampai bolak-balik posisi, dan meski lampu telah dimatikan pun mata ini juga tak kunjung terpejam. Dan yang paling saya ndak suka adalah masalah pribadi saya, selalu pilek setelah bangun tidur, haduhhhh.

Setengah jam kemudian, tiba-tiba ibu saya bangun dari tidurnya dan menghampiri saya. Dan dengan lembut ia pun berkata, kenapa? Kok nangis, ada masalah apa, ceritalah?
Saya yang notabene masih males untuk berbicara, tinggal bilang saja, gak papa.
Meski ibu saya terus mengejar menanyakan apa yang saya rasakan tapi saya tetap diam, dan bilang tidak apa-apa.

Puisi Syar'i nan

Aku lelaki juling bermata jalang
Ahli hisab pengamat pemakai jilbab
Getir hati saat terpikat, pekuk rindu tentramnya kalbu
Melihat ukhti dalam syar’i bukan syar’inan
Terdesit pelik syar’i hijabmu
Kian hari tak terganti, lama pula tak bersua
Pada engkau penuntun syurga

Ini karena engkau, aku lelaki jalang bermata juling
Flag Counter